Fera Susanti Anmartias

Guru Bahasa Inggris MTsN 3 Pasaman Barat, Sumatera Barat yang hobi memotret, bermedsos dan menulis. Baru belajar menulis merangkai kata agar bermakna. A...

Selengkapnya

Asa Abak

Asa Abak

Sepeda motor keluaran tahun baheula itu terangguk-angguk saat pengendaranya menginjak rem depan. Gerbang sekolah masih jauh. Tapi anak bujang kesayangannya selalu minta berhenti dan turun di sini.

"Sampai simpang tiga dekat sekolah saja, Bak!"

Laki-laki tua itu biasa dipanggil Abak oleh anak-anaknya.

"Abak langsung pulang saja. Jangan bermenung lama-lama di simpang ini, ya!" seru Anwar lagi. Anwar, anak bungsu kesayangan Abak itu lalu berjalan tergesa ke arah gerbang sekolah.

Dipandanginya punggung lebar anak bujang yang tinggi semampai. Menyandang tas lusuh yang dibeli tiga tahun lalu. Tak terasa tahun ini si bujang Anwar akan pula tamat pula dari SMA.

Betapa ia ingin selalu mengantar jemput ke sekolah tiap hari. Sampai selesai sekolah. Lalu mengantar si buyung ikut tes polisi atau tentara. Atau kuliah hingga menjadi guru muda. Itu cita-citanya yang disandarkan penuh harap pada buah hati tercinta, Anwar.

Segala daya dan upaya akan ia lakukan demi sekolah dan impiannya itu. Biarlah ia bekerja keras. Membanting tulang seharian. Bercucuran keringat lelah. Semua keinginan anak bujang akan ia penuhi.

Lima orang abang Anwar tak tamat SMP. Kemudian bekerja serabutan. Sungguh ia berharap banyak pada si bungsu ini. Bisa menjadi polisi atau tentara yang gagah rupawan. Menjadi orang hebat dan disegani dalam keluarga mereka.

Atau menjadi guru muda, seperti anak saudara sepupu. Yang berpenampilan rapi setiap hari. Menjadi tempat bertanya sanak saudara tentang banyak hal. Sungguh pak guru yang pandai, berwawasan luas serta berbudi pekerti tinggi.

***

"Abak, besok tak usah antar jemput aku ke sekolah lagi, Bak!" Pinta Anwar malam hari saat ia baru menyelesaikan suapan terakhirnya.

"Apa salahnya Abakmu mengantar sekolah. Abak dengan senang hati melakukannya, Nak!" tutur Emaknya lembut.

"Aku malu, Mak. Aku satu-satunya murid yang diantar pakai motor buruk. Biarlah aku jalan kaki saja ke sekolah, Mak!" Anwar bersikukuh.

Abak terdiam. Emak menghela nafas panjang.

"Ya, terserah engkaulah Nak! Yang penting sampai sekolah, belajar dengan rajin. Emak dan Abak ingin sekali melihatmu bekerja jadi polisi atau tentara. Atau jadi guru. Menjadi orang yang bersekolah tinggi. Berilmu. Agar engkau bisa membanggakan kami kelak. Bekerja dan bergaji. Tak hidup payah seperti kami!" Pinta Emak penuh harap.

Anwar tak mwnjawab. Duduk resah. Menatap gelisah dalam temaram lampu rumah mereka.

***

Jelang senja kala langit memerah di sela dedaunan sawit yang melambai-lambai. Sesaat sebelum Maghrib, abak beristirahat sejenak. Seharian ini entah telah berapa ton sawit milik Bu Hajjah yang dipikulnya. Hanya dengan menjadi buruh, roda kehidupan keluarga mereka dikayuh.

Suara motor dan ucapan salam didepan rumah membuyarkan lamunan Abak. Rahmat, Pak Guru muda itu datang membawa sepucuk surat.

"Paktuo, ini surat panggilan dari sekolah. Anwar sudah seminggu tak masuk sekolah!"

Terpana Abak mendengar. Gemetar suaranya berkata, "Nak Guru, mana mungkin? Tiap pagi kuantar Anwar pergi sekolah! Baru seminggu ini ia tak mau lagi kuantar jemput.

"Iya, Paktuo, saya juga hampir tiap pagi melihat Paktuo mengantar Anwar. Tapi Anwar jarang masuk kelas, Paktuo. Dia lebih sering duduk-duduk di warung kopi di kebun sawit tepi sungai sana. Merokok dan minum tuak bersama preman kampung sebelah. Sudah saya nasehati Anwar itu Paktuo. Tapi dia tak mau mendengar!" Terang Pak Rahmat panjang lebar.

Jatuh melayang segala asa dan impian Abak. Tak akan ada seorang guru atau polisi ataupun tentara gagah yang akan hadir di rumah sederhana mereka. Asa dan impian yang tercurah pada si bungsunya kandas sudah. Cita-citanya tak akan tercapai.

Pasaman Barat, 3 April 2019

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Apa tidak bisa dilanjutkan lagi ceritanya, anaknya mendapatkan hidayah sampai dia menyadari pengorbanan orang tuanya. Ending yang hapy

03 Apr
Balas

Wahhh... inspiratif sekali kak fe. Bagaimana kelanjutan kisahnya? Akan jadi satu buku kah?

03 Apr
Balas

Wah ceritanya menimbulkan banyak tanya, banyak yang terjadi hal seperti ini pemicunya adalah pengaruh lingungan dan psykologis diri siswa atau anak. Sangat menginspirasi. Sehat, bahagia, dan sukses selalu. Barakallah.

04 Apr
Balas

Wah..Kasian Abaknya Anwar...Ditunggu lanjutannya Miss Fera...

03 Apr
Balas

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali